.:: sebuah refleksi diri ::.


Wara’ Kunci Kesuksesan dan Keselamatan

Posted in Artikel, Kisah dan Hikmah by al4mien on 8 August 2008

Al Habib Al Imam Ali bin Muhammad Al Habsyi: Wara’ Kunci Kesuksesan
dan Keselamatan

Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi RA adalah salah satu auliya
(kekasih) Allah SWT yang kata-kata dan petuahnya selalu diterima
setiap insan. Perbuatan dan perangainya selalu menjadi teladan bagi
mereka. Majelis beliau senantiasa dipadati oleh orang-orang yang
hendak mendulang ilmu dan sir dari beliau. Tidak terkecuali orang yang
berilmu pun turut hadir di majelis itu, karena mereka melihat derasnya
hikmah dan rahasia-rahasia yang bermutu tinggi yang disampaikan oleh
beliau.

Kata-kata mutiara beliau senantiasa membasahi hati yang gersang bak
air hujan yang membasahi tanah yang tandus sehingga menyuburkannya.
Memang benar bahwa ilmu (hikmah) yang disampaikan seorang Arif billah,
akan memberikan ketenangan dan kesejujkan hati ibarat air hujan
memberikan kesuburan pada pepohonan.

Marilah kita simak dengan cermat dan laksanakan sebagian nasehat yang
beliau sampaikan pada malam Senin 24 Muharram 1324 H di salah satu
majelis beliau yang mulia. Insya-allah kita tergolong kaum yang
mencintai beliau dan para salaf sholeh, sehingga kita kelak
dikumpulkan bersama mereka. Amin.

Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi berkata,

“Wahai saudara-saudaraku, hati-hati telah menjadi kaku dan beku,
tidak ada lagi bekas dan pengaruh dari al Quran maupun nasehat para
ulama yang selalu didengarnya. Sedang kita tidak tahu apa gerangan
penyebab kekerasan hati itu. Ketahuilah bahwa penyebab terbesar dan
yang paling dominan adalah karena makanan yang kotor (syubhat atau
haram) yang masuk ke perut kita, saat ini banyak orang tidak perduli
dan bahkan tidak takut untuk jatuh pada keharaman. Mereka meremehkan
masalah ini.

Bagaimana mungkin nasehat dan petuah yang sampai akan memberikan
atsar (pengaruh) dan membekas di hati, sedang makanan yang dikonsumsi
adalah haram? Mudah-mudahan Allah menjauhkan kita dari keharaman di
mana pun dan kapan pun kita berada, serta menghalangi dan membentengi
kita dari orang yang suka keharaman.

Ketahuilah, keluarga kita (para salaf sholeh), thariqah (jalan)
mereka adalah mencari yang halal dan bersikap wara’ (berhati
hati/menjaga diri). Hati-hatilah saudaraku dari makanan haram. Kekasih
kalian Nabi Muhammad SAW telah bersabda (yang artinya), “Setiap daging
yang tumbuh dari makanan yang haram maka neraka lebih pantas untuknya”.

Hadits di atas sudah cukup populer dan sering disampaikan sebagaimana
terdapat dalam kitab Kasyful Khafa’ karya Al Imam Al `Ajaluniy ra.
Imam Sahl bin Abdillah At Usturi, salah seorang ulama salaf berkata,

“Siapa memakan yang haram, maka tubuhnya akan bermaksiat, dia mau
atau tidak, Dan siapa yang memakan yang halal maka tubuhnya akan
berbuat taat, dia mau atau tidak”.

Pada masa kita ini, nyaris tidak ditemukan lagi orang yang wara’
kecuali sangat sedikit kebanyakan mereka telah terjerumus dalam
keharaman. Ketahuilah bahwa hati ini akan menjadi gelap karena makanan
haram, baik dia menyadari dan mengetahuinya atau tidak. Baiklah jika
memang dia tidak mengetahui bahwa yang dimakannya adalah haram, ini
mungkin agak ringan (tetapi tetap akan menyebabkan kegelapan hatinya).

Tapi yang dengan sengaja melakukannya maka celakalah dia, binasalah
dia. Sebab siapa memasukkan satu suapan haram pada tubuhnya maka
sholatnya tidak diterima oleh Allah selama suapan itu masih berada
dalam tubuhnya. Siapa yang sholat dengan baju yang disana terdapat
satu benang (kain) yang haram maka sholatnya tidak diterima oleh Allah
selama baju itu melekat ditubuhnya. Lalu apa faedah yang akan didapat
dari amalnya jika ternyata itu semua tidak diterima? Bagaimana mungkin
cahaya akan masuk ke dalam hati yang gelap gulita?

Saat ini, jika kamu datang kepada sekelompok orang lalu membicarakan
masalah ke-wara’-an, maka mereka akan berkata,

“Kamu ini siapa?”
“Kamu sedang berada di mana?”
“Sekarang manusia semua sudah makan yang haram. Di mana yang halal?”
“Kamu mau makan apa?”

Ketahuilah bahwa kata-kata semacam ini adalah kurang ajar dan
menentang (berani) kepada Allah SWT. Padahal bumi Allah sangatlah
luas, jika dia mau berusaha pasti akan mendapatkan yang halal
sekalipun dengan usaha yang keras.

Yang lebih mengherankan lagi bahwa ada sebagian manusia yang berakal,
memiliki pikiran, tetapi sengaja memakan yang haram padahal dia tahu
bahwa dengan perbuatannya itu dia akan diadzab oleh Allah. Sebab jika
dia melakukan itu dia akan terseret ke dalam neraka, maka
tinggalkanlah makanan haram, pasti akan datang kepada kalian makanan
yang halal.

Nabi Muhammad saw bersabda (yang artinya),

“Yang halal itu jelas dan haram juga jelas, dan antara keduanya
adalah perkara yang syubhat (remang-remang), banyak manusia tidak
mengetahui kejelasannya. Maka siapa yang manjaga diri dari barang
syubhat ini, maka dia telah menjaga harga diri dan agamanya. Dan siapa
yang terjerumus pada syubhat maka dia akan terjerumus pada yang haram,
ibarat seorang pengembala yang menggembalakan kambingnya di dekat
daerah larangan maka dia nyaris akan memasuki daerah larangan itu.”
(HR Bukhori dan Muslim dll)

Saat ini, hampir tidak ada mudzakarah (pengajian) tentang wara’, sebab
jika ada yang menyebutkamya maka dia akan diam karena khawatir akan
diingkari oleh orang lain, sebab keharaman sudah membaur di antara
masyarakat. Inilah hari di mana kebenaran banyak disepelekan. Nasehat
sudah tidak masuk ke dalam hati dan rasa takut kepada Allah sudah
tidak bersemayam lagi dalam kalbu. Dan sebabnya adalah makanan haram
yang mengeraskan dan menggelapkan hati.

Saat ini banyak orang yang datang kepada kita dan menipu kita dengan
menyuruh agar uang-uang kita ditabung di bank (agar menghasilkan bunga
yang banyak), anak-anak kecil yang mendapat harta warisan yang banyak,
mereka diperdaya agar uangnya disimpan sehingga ketika anak itu sudah
baligh maka dia akan mendapati hartanya telah tercampur dengan keharaman.

Maka dari itu jagalah diri kita dan keluarga kita terutama dari hal
yang semacam ini, jangan sampai tubuh mereka terisi makanan syubhat
apalagi haram, sekuat apapun usaha kita untuk mengarahkan mereka ke
jalan yang lurus, namun jika makanan yang kita berikan tidak benar,
maka akan sia-sia usaha tersebut. Dan kita larang mereka sekuat tenaga
dari kemungkaran, maka itu pun akan sia-sia. Karena makanan baram
telah mendarah daging dengan mereka.

Dalam atsar disebutkan,

“Jika kalian banyak sholat sehingga menjadi seperti tiang-tiang,
bannyak berpuasa sehingga kurus kering seperti tali busur, semua
ibadah itu tidak akan diterima kecuali jika dilandasi dengan kewara’an
yang tinggi”.

Al Habib Abdullah bin Alawiy Al Haddad RA dalam untaian nasehatnya
menyatakan,

“Ketahuilah semoga Allah merahmati kalian bahwa makanan halal akan
menyinari hati dan melembutkannya dan menyebabkan adanya rasa takut
kepada Allah dan _khusyu’ kepadaNya, memberikan semangat dan motivasi
pada anggota tubuh untuk taat dan beribadah serta menumbuhkan sikap
zuhud terhadap dunia dan kecintaan pada akhirat. Dan inilah sebab
diterimanya amal amal sholeh kita dan dikabulkannya doa-doa kita.”_

Sebagaimana sabda Rasulullah saw kepada Sa’ad bin Abi Waqqash,
“Perbaguslah (jaga kehalalan) makananmu, niscaya doamu akan dikabulkan”.

“Adapun makanan haram dan syubhat maka kebalikan dari yang sudah
disebutkan tadi, dia akan menyebabkan kekerasan hati dan
menggelapkannya, mengikat (mengekang) tubuh dari ketaatan dan
menjadikannya rakus terhadap dunia. Inilah sebab ditolaknya amal-amal
ibadah dan doanya.”

Sebagaimana dalam sebuah hadits, di mana Rasulullah saw menceritakan
seorang musafir yang bajunya compang-camping, rambutnya berdebu (tidak
terurus), dan dia menengadahkan kedua tangannya ke langit (dengan
suara lirih dan penuh harapan–red) dia berkata,

“Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku …”

Namun makanannya haram, minumannya haram, bajunya haram dan dimasukkan
pada mulutnya makanan haram, maka bagaimana mungkin akan diterima doanya?

Maka berusahalah mencari pekerjaan dan makanan yang halal dan jauhilah
keharaman. Dan ketahuilah bahwa kewara’an ini tidak hanya pada makanan
saja tapi mencakup semua aspek pekerjaan kita. Berbuat apapun harus
dilandasi dengan kehati-hatian dan kewaspadaan, jika masih ragu maka
tingglkanlah, khawatir akan terjerumus pada keharaman dan akibatnya
pasti fatal.

Al Habib Al Imam Ali bin Muhammad Al Habsyi adalah penyusun Kitab
Maulid “Simtud Durar”

Ditulis kembali dari buletin Majelis Ta’lim Wa Adda’wah asuhan Habib
Sholeh Ibn Achmad Ibn Salim Al Aydrus edisi 26 Tahun 2006

Source : Milist Majelis Rasulullah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: