.:: sebuah refleksi diri ::.


Jangan Taqlid

Posted in Artikel, Kisah dan Hikmah by al4mien on 3 November 2008

NS Hosen


Ba’da sholat zuhur berjamaah di masjid jami’, Ujang merasa kehausan.

Kakinya lantas melangkah ke warung Mpok Ruqayah. Ujang memesan es

kelapa muda.

Pada saat yang bersamaan, seorang anak muda yang berjenggot tipis dan

memakai celana cungkring (sekitar 10-15 senti di atas mata kaki) duduk

disamping Ujang. Sambil tersenyum pada Ujang, anak muda yang bernama

Jundi ini bertanya kepada Ujang, “Tadi malam akhi Ujang ikutan ratiban

di kediaman Haji Yunus yah?”

“Iyah alhamdulillah saya ikutan bareng-bareng baca Ratib al-Haddad

bersama Wak Haji”, jawab Ujang sebelum menyeruput es kelapa muda.

“Apa akhi Ujang tahu apa dalilnya ikut ratiban semacam itu?” Jundi

bertanya sambil tersenyum.

“wah itu sih urusan Wak Haji…kata beliau ratiban ini kumpulan doa

yang tentu saja ada dalilnya. Lha dalilnya itu apa dan bagaimana

yah…tolong aja kang Jundi tanya langsung sama Wak haji Yunus”. Ujang

nyerocos sambil tangannya mencomot pisang goreng di depannya.

“Itu namanya taqlid alias fanatisme buta. Agama melarang kita untuk

taqlid semacam itu. Bukankah Pak Yunus itu manusia biasa yang bisa

salah dan khilaf. Kok akhi Ujang mau saja ikut-ikutan sama beliau. Itu

namanya menyembah Pak Yunus. Haram itu hukumnya!” suara Jundi mulai

meninggi.

“wah…udara udah panas begini, kang Jundi kok malah bikin saya jadi

gerah nih.” Ujang mengipas-ngipaskan pecinya ke arah tubuhnya.

“bukan begitu akhi…saya sekedar mengingatkan saja. Rasulullah SAW

telah bersabda, ‘Aku tinggalkan dua perkara yang kalian tidak akan

sesat selama berpegang teguh dengan keduanya, yaitu: Kitabullah dan

Sunnahku’. Jadi segala persoalan harus berdasarkan kepada Qur’an dan

Sunnah. Nggak boleh hanya kata kiyai anu atau ulama sana atau cuma

kata Pak Yunus.”

“bentar kang….” Ujang merubah posisi kakinya sambil kemudian

mengangkat sedikit kain sarungnya. Ujang terus meneruskan, “Hadis yang

tadi kang Ujang baca itu shahih atau dha’if?”

“Hadis-nya shahih ya akhi Ujang” jawab Jundi sambil memegang jenggotnya.

“O, ya? Akang tahu dari mana kalau itu hadisnya shahih?”

“Dari Syekh al-Albany. Beliau ini ulama besar…dalam kitab Silsilah

Al-Hadits As-Shahihah, beliau bilang hadis ini shahih.” Jundi lantas

membuka catatannya. “Ya betul akhi…ini disebutkan dalam buku Syekh

al-Albany juz 4, halaman 330″

Sambil membetulkan peci hitam yg sudah lusuh, Ujang bertanya lagi:

“sudah akang periksa argumennya al-Albany sampai beliau bilang hadis

ini shahih? Misalnya dicek ulang gitu semua argumen beliau”

“Belum. Tapi Syekh al-Albany menyebutkan sumber-sumber rujukannya kok”

“Terus darimana akang bisa yakin kalau yang dilakukan Syekh al-Albany

dalam mengatakan Hadis ini shahih itu benar?”

“Lho al-Albany kan ahli hadis, dia punya kualifikasi untuk itu,

masak dia bohong?” suara Jundi mulai meninggi. Dalam hatinya dia

bilang, “ini orang kok ngeyel banget sih. Susah banget menerima sebuah

kebenaran!”

“Ehmm…akang sudah taqlid dong sama Syekh al-Albany. Yang akang

lakukan sama saja dengan kawan-kawan saya tadi malam yang mengikuti

Wak Haji Yunus utk ratiban bareng tanpa mengkaji terlebih dahulu dalil

dan argumen wak Haji Yunus. Kami melakukannya karena “percaya”

bahwa wak Haji Yunus itu ahli dalam bidangnya”

Sambil nyengir meniru gaya film james Bond yang ditontonnya saat layar

tancep, Ujang meneruskan:

“Sama saja dengan saya kalau sakit pergi ke dokter. Apa yang dikatakan

dokter saya percaya. Disuruh minum obat A atau B saya ikuti. Soalnya

saya “percaya” akan otoritas dokter tsb. Saya nggak mau bilang begini,

‘Maaf dokter, saya butuh waktu untuk menguji apakah obat yg anda kasih

itu benar atau tidak, saya harus cek dulu argumentasi anda utk

mengatakan penyakit saya ini A dan bukan penyakit B”

Muka Jundi langsung memerah. Dia tidak menyangka Ujang yang sarung dan

pecinya sudah lusuh dan wajahnya ndeso banget itu dengan telak menohok

argumentasi Jundi.

Mpok Ruqayah, yang dari tadi cuma mendengarkan sambil menggoreng

pisang, tiba-tiba ikutan nimbrung.

“Perasaan ane hadis yang tadi bang Jundi bacakan ada versi lainnya

deh. Dulu Wak haji Yunus udah pernah menjelaskan saat ane ikutan

pengajian di rumahnya”

“Enggak ada Mpok…hadisnya ya cuma ini. kalau ada versi lain, ya itu

dha’if” jawab Jundi sambil membolak-balik buku catatannya.

“ah urusan dha’if apa kagak itu sih urusan orang sekolahan…bukan

urusan ane…urusan ane sih dagang aja” Mpok Ruqayah tertawa sambil

membetulkan posisi sendal jepitnya.

“Iya nih akang masih doyan aja sembarangan mendha’ifkan hadis”

“Soalnya kata murabbi saya begitu akhi”

“Tuh kan…ente taqlid lagi” Ujang kembali nyengir.

“Bukan…ini bukan taqlid. Ini namanya tsiqah pada qiyadah”

“ya sama aja dong…intinya kan tunduk dan patuh serta percaya pada

pemimpin dan panutan kita. Saya taqlid sama Wak haji Yunus. Akang

Jundi tsiqah sama murabbi. Intinya kan sama aja. Artinya sama-sama

baik. Karena Wak Haji Yunus orang baik, dan Murabbi akang juga orang

baik. Begitu kang…”

Di saat itu datanglah Haji Yunus sambil mengucapkan salam. Ujang dan

Mpok Ruqayah lantas menceritakan dialog dengan Jundi tersebut. Jundi

yang duduknya menjadi gelisah, ditepuk-tepuk bahunya oleh Haji Yunus.

“Bagus…bagus…inilah pemuda harapan kita. Selalu bersemangat dalam

menjalankan Din Allah ini”

“Nak Jundi kuliah dimana? tanya Haji Yunus dengan lembut.

“Di Universitas Prabu Siliwangi, jurusan akunting. Saya lagi buat

skripsi Pak Yunus”

“Oh bagus…bagus…apa saat menulis skripsi itu Nak Jundi

mencantumkan footnote yang isinya pendapat para pakar dan juga

mengikuti petunjuk yang diberikan oleh pembimbing skripsi?”

“Tentu saja Pak. Dunia akademik memang seperti itu”

“Mungkin Nak Jundi belum tahu, ttulah tradisi ilmiah dalam Islam yang

diadopsi oleh dunia intelektual modern saat ini. Tradisi merefer dan

merujuk itu bisa dilacak dalam khazanah Islam.” Haji Yunus menjelaskan

sambil memberi kode kepada Mpok Ruqayah utk membuatkan kopi.

“Wah jangan-jangan akang Jundi ini taqlid juga sama pembimbing dan

para pakar yg dicantumkan dalam footnote skripsinya nih” Ujang

nyeletuk sambil megang perutnya yang buncit.

Jundi tersenyum masam.

Haji Yunus melotot pada Ujang, tanda beliau kurang suka dengan Ujang

yang menggoda Jundi. Lalu beliau menoleh kembali pada Jundi:

“Tadi hadis yang dibacakan oleh Nak Jundi itu bagaimana bunyinya dan

bagaimana terjemahnya?” tanya Haji Yunus.

“Maaf Pak Yunus…saya hanya mencatat dari kumpulan materi pengajian.

Kebetulan hadisnya ini sudah diterjemahkan.”

Ujang nyeletuk lagi:

“itu namanya akang bukan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah…tapi

kembali ke terjemahan al-Qur’an dan terjemahan Sunnah. Lha yang

nerjemahin itu siapa? Kok akang percaya saja sama terjemahannya. Itu

namanya akang taqlid sama terjemahan tersebut. Terjemahan Qur’an dan

Hadis kan banyak macamnya. Cari aja di-google. Otong yang kawan saya

aja bisa. Betul kan Wak Haji?”

Muka Jundi memerah kembali.

“Iya betul”, kata Haji Yunus, “tapi kamu jangan biasakan memojokkan

saudara sendiri seperti itu. Kita semua kan sama-sama belajar.” tegur

Haji Yunus.

“Maaf Wak Haji…” Ujang menundukkan pandangan matanya, sebagai tanda

ia menerima teguran Haji Yunus. Lantas mata ujang melirik ke lantai.

Tiba-tiba ia berseru panik.

“Lho Mpok Ruqayah…kok sendal saya hilang. Tadi kan masih di sini.”

Ujang celingukan mencari sendal jepitnya.

“wah jangan-jangan sendal jepit saya hilang akibat adanya konspirasi

Yahudi dan CIA untuk mencuri harta ummat Islam nih….” Ujang nyerocos

sambil garuk-garuk kepala.

Mpok Ruqayah langsung nyengir….”masak Yahudi sama CIA ngurusin

sendal jepit kamu yang jelek itu…Ujang…ujang…ada-ada aja sih!”

Haji Yunus pura-pura tidak mendengar dan memilih untuk menikmati

kopinya. Jundi masih tersenyum kecut sambil melirik catatan pengajian

yang berjudul, “ghazwul fikri antara yahudi-barat versus ummat Islam”

dikutip dari:

http://nahdlatul-ulama-anz.blogspot.com/

Milist Majelis Rasulullah

2 Responses to 'Jangan Taqlid'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Jangan Taqlid'.

  1. Rozy said,

    Mantabssss😆

    • al4mien said,

      hehehe…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: