.:: sebuah refleksi diri ::.


Imam Bukhari

Posted in Tokoh dan Cendekiawan Islam by al4mien on 8 February 2009

Penyusun kitab paling shahih setelah Al-Qur’an

300px-arabicsahihbukhariNama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin ismail bin Ibrahim Al-Mughiroh bin Barzibah. Imam besar keturunan Persia ini lahir pada hari jum’at, 4 Syawal 94 H. ayahnya, Ismail merupakan seorang ahli hadits ternama. Pada masa kanak-kanak, Bukhari kecil telah menjadi yatim. Namun, kehilangan orang tua tidak menjadikannya putus asa untuk mendalami ilmu agama.

Imam Bukhari pernah bercerita waktu masih kanak-kanak aku pergi untuk belajar pada para ahli fiqih di Moro. Saat masuk di ruang pengajian aku malu untuk mengucapkan salam pada mereka. Seorang pendidik bertanya, “hari ini kau menulis berapa ?” Aku jawab “Dua”, maksudku dua hadits. Orang-orang ynag hadir tertawa mendengar jawabanku. “Jangan menertawakan dia, siapa tahu kelak dia menertawakan kalian” kata seorang syaikh mengingatkan.

Bocah Jenius

Dalam usia 10 tahun, ia telah aktif menghafal hadits dan menghadiri pengajian ahli hadits. Suatu hari, Imam Ad Dakhili membacakan hadits di majlisnya, “Dari Abu Zubair dari Ibrahim…” Bukhari yang kebetulan hadir segera memotong, “Abu Zubair tidka pernah meriwayatkan dari Ibrahim,” katanya. Merasa terganggu, Ad Dakhili membentaknya. Namun Bukhari kecil tetap yakin dengan pendapatnya, “Coba Anda lihat lagi tulisannya,” kata Bukhari menyarankan. Ad Dakhili kemudian masuk rumahnya untuk mengambil kitab. Beberapa saat kemudian dia keluar lagi, “Bagaimana yang benar, Nak? Seharusnya dari Zubair bin Adi dari Ibrahim” jawab Bukhari.
“Engkau benar” kata Ad Dakhili yang kemudian membetulkan catatannya. Ini terjadi saat Bukhari masih berumur 11 tahun. Sungguh menakjubkan. Lima tahun kemudian (usia 16 tahun), ia telah mampu menghafal dua kitab Hadits karya Ibn al-Mubarak dan Waki’.
Bukhari memang dikenal sangat cerdas serta kuat ingatannya. Ini diakui oleh teman-teman belajarnya. Pada masa-masa belajarnya beliau pergi ke Basrah bersama Hasyid bin Ismail dengan seorang temannya. Mereka bertiga belajar hadits dari seorang syekh ke syekh yang lain. Namun selama belajar Bukhari tidak pernah menulis. Kedua temannya pun menegur, “Engkau ikut belajar bersama kami tapi tidak pernah menulis, apa yang kau perbuat?. Bukhari hanya diam. Berkali-kali mereka mengingatkan, namun Bukari tidak pernah menanggapinya. Setelah 16 hari mereka belajar di Bashrah Bukhari berkata, “Kalian berdua selalu mendesakku dengan pertanyaan-pertanyaan. Coba tunjukkan padaku hadits-hadits yang telah kalian tulis.” Mereka berdua menunjukkan catatannya. Ternyata Imam Bukhari telah hafal semua yang mereka tulis dan menambahkan lagi 15 ribu hadits yang belum sempat tercacat oleh kedua temannya itu. “Apakah kalian kira aku dating ke sini sia-sia dan membuang-buang waktu dengan percuma?” kata Bukhari. Barulah kedua temannya menyadari bahwa Imam Bukhari memang tak dapat ditandingi. Dan sejak itu mereka sering mencocokkan catatan mereka dengan hafalan Imam Bukhari.
Dalam mempelajari hadits, Imam Bukari telah “nyantri” di berbagai tempat seperti : Syiria, Hijaz, Irak, Mesir dan lain-lain. Guru-gurunya yang terkenal antara lain: Ali ibn al-Madani, Ahmad bin Hanbal, Yahya ibn Ma’in, Muhammad ibn Yusuf al-Faryabi, Makky ibn Ibrahim al-Balkhi, dan sebagainya.

Imam Ahli Hadits

Kecerdasan dan keseriusan Imam Bukhari telah menjadikan ia berhasil menjadi pakar hadits peringkat teratas di zamannya dan menjadi panutan ahli-ahli hadits yang lahir sesudahnya.
Dimana pun Imam Bukhari singgah, disitu para ulama’ dan ahli hadits berkumpul untuk mendengarkan hadits darinya. Para ulama’ dari kota Basrah berlari di belakang Imam Bukhari untuk mendapatkan hadits padahal saat itu beliau masih sangat muda. Terkadang Imam Bukhari terpaksa menghentikan perjalanannya dan menyampaikan hadits pada ratusan orang yang mengerumuninya ditepi jalan.
Ketika Imam Bukhari datang ke kota Naisabur, beliau disambut empat ribu penunggang kuda yang ingin mendengar hadits darinya, ini belum termasuk penunggang keledai dan pejalan kaki.
Sewaktu Imam Bukhari sampai di kota Balkh, para ahli hadits meminta agar Imam Bukhari meriwayatkan kepada mereka satu hadits dari tiap-tiap perawi yang pernah ditemuinya. Maka Imam Bukhari mendiktekan seribu hadits dari seribu perawi.
Di kota Basrah ketika Imam Bukhari datang, seorang penyeru mengumumkan di Masjid Jami’ Basrah, “Wahai para ahli ilmu, Imam Bukhari telah datang.” Mereka pun segera keluar dari rumah untuk mencari Imam Bukhari. Ternyata Imam Bukhari sholat dibelakang salah satu tiang Masjid. Semua mata memandang pemuda tersebut. Usai shalat, mereka minta agar Imam Bukhari berkenan menyampaikan hadits-haditsnya, semakin hari semakin banyak yang hadir hingga jumlahnya mencapai ribuan. “Wahai penduduk Basrah,” kata Imam Bukhari memulai pembicaraannya. “Aku masih muda, namun kalian memintaku untuk menyampaikan hadits. Baiklah, akan kusampaikan pada kalian hadits-hadits tentang penduduk negeri kalian.”
Dari dulu hingga sekarang, banyak pujian para ulama’ yang ditujukan pada Imam Bukhari. Yahya bin Jakfar berkata, “seandainya aku mampu menambahkan umurku untuk Imam Bukhari niscaya aku lakukan, karena matiku adalah kematian seorang saja, sedangkan kematian Imam Bukhari berakibat hilangnya ilmu agama.”
Husin bin Harits berkata, “aku tidak pernah melihat seseorang seperti Imam Bukhari, seakan-akan beliau diciptakan hanya untuk hadits.”
Suatu ketika Muslim bin Hajjaj datang kepada Imam Bukhari seraya berkata, “Biarkan aku mencium kakimu wahai guru semua guru, dokter hadits dan pemimpin ahli hadits.”
Imam Bukhari dikenal sebagai orang ‘alim yang cerdas serta kuat ingatannya. Sebagai ilustrasi, dalam usia belasan tahun ia pernah diuji oleh 10 orang ulama hadits terkenal. Dikemukakan kepadanya 100 buah hadits (masing-masing ulama mengemukakan 10 buah hadits) yang sanadnya telah ‘dijungkirbalikkan’ sedemikian rupa. Bagaimana hasilnya? Bukhari bukan hnya meluruskan sanad-sanad (mata rantai periwayatan) dari semua hadits tersebut, akan tetapi ia mampu mengulang terlebih dahulu satu persatu dari 100 buah hadits yang ‘dijungkirbalikkan’ sanadnya itu persis sebagaimana yang diucapkan oleh para pengujinya.
Menjadi tokokh besar seperti Imam Bukhari, tak sedikit rintangan yang harus dilalui, beliau sempat difitnah dan diusir dari negerinya, Bukhara. Ini berawal ketika Khalid bin Ahmad, penguasa Bukhara, mengutus seseorang untuk menyampaikan pesan kepada Imam Bukhari, agar datang utuk menemuinya di Istana dengan membawa kitab-kitab haditsnya. Maka Imam Bukhari menjawab, “Saya tidak akan menghinakan ilmu dengan membawanya ke rumah-rumah orang, kalau memang Sultan memiliki hajat, maka dialah yang harus datang ke masjid atau rumahku. Kalau tidak mau, silahkan saja Sultan menutup majlisku, supaya saya dihari kiamat terlepas dari dosa menyembunyikan ilmu, karena Nabi bersabda, ‘Barang siapa ditanya tentang suatu ilmu dan dia menyembunyikannya, maka dia dikekang dengan kekang api.’”
Ketika Imam Bukhari diusir dari Bhukhara, Beliau ditanya, “Bagaimana pendapatmu tentang hari ini?” Imam Bukhari menjawab, “Saya tidak peduli, yang penting agamaku selamat”.
Imam Bukhari berakhlaq mulia, hidup zuhud, wara’, ikhlas dan dermawan. Selain itu, Imam Bukhari adalah figur pedangang yang jujur. Suatu ketika, Ahmad, putra Imam Bukhari menjualkan dagangan ayahnya. Para pedagang mendatanginya, mereka berniat membeli barang-barang itu dengan memberi keuntungan lima ribu, namun Ahmad belum berkenan melayani, “Pulanglah kalian malam ini,” katanya.
Esok harinya rombongan pedagang yang lain datang dan ingin membelinya dengan memberi keuntungan sebesar 10 ribu. “Tidak, kami sudah berniat menjualnya pada mereka yang datang tadi malam,” tegas Ahmad.

Sahih Bukhari

Imam Bukhari telah menyumbangkan kepada umat Islam khazanah yang tak ternilai harganya. Salah satu kitabnya yang diwariskan kepada kita adalah Sahih Bukhari, yang oleh pengarangnya sendiri disebut sebagai “kitab yang memuat hadits-hadits sahih dan juga mencakup berbagai bidang dan masalah, serta rangkaian sanadnya yang benar-benar bersambung sampai kepada Rasulullah SAW.”
Para ulama’ menyatakan, kitab Sahih Bukhari adalah kitab yang paling terpercaya kebenarannya setelah Al-Qur’an. Sahih Bukhari memuat sejumlah 9082 buah hadits termasuk yang mukarar (terulang penyebutannya). Jumlah ini merupakan hasil penyaringan beliau terhadap tidak kurang dari 600.000 hadits yang telah diselesaikannya dalam waktu 16 tahun, sebagaimana yang telah beliau katakan “Saya ambiil untuk kitab As-Sahih dari 600.000 hadits dan tidak aku tulis satu hadits pun kecuali setelah aku mandi dan shalat dua rakaat”.
Bukhari lalu menghadapkan karya-nya kepada guru-gurunya, Yahya ibn Ma’in(w. 233 H), Ali ibn Al-Madani(w. 2235 H), dan Ahmad ibn Hanbal(w. 241 H). Disamping itu, ‘Ajjaj al-khatib menyatakan bahwa Sahih al-Bukhari ini telah didengar dan dipelajari oleh sekitar 90.000 ahli hadits di zamannya. Kemudian melalui berbagai jalur, kitab ini diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya, sampai akhirnya dicetak seperti sekarang ini.
Imam Bukhari wafat pada malam Idul Fitri tahun 56 H, pada usia 62 tahun. Beberapa saat setelah pemakaman tampak diatas kuburnya tiang-tiang dari sinar menjulang ke langit. Penduduk sekitar berdatangan menyaksikan pemandangan ajaib tersebut. Dari kubur itu pula keluar bau wangi semerbak selama berhari-hari. Semoga Allah SWT membalas jasa-jasa beliau dan mengumpulkan kita dengan para wali-Nya di surga kelak.
Tim Cahaya Nabawiy

Sumber :
Majalah Cahaya Nabawiy No.53 Tahun V Jumadil Akhir 1428/ Juli 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: